API Gateway #

Dalam arsitektur cloud modern—terutama yang mengadopsi serverless dan microservices—API berperan sebagai gerbang utama komunikasi antar sistem. Di ekosistem AWS, komponen yang paling sering digunakan untuk kebutuhan ini adalah AWS API Gateway.

AWS API Gateway bukan sekadar “router HTTP”, tetapi sebuah managed API platform yang menangani routing, security, throttling, observability, hingga integrasi native dengan berbagai layanan AWS seperti Lambda, DynamoDB, SQS, dan Step Functions.

Artikel ini membahas AWS API Gateway secara menyeluruh dan teknis, mulai dari konsep dasar, jenis-jenisnya, konfigurasi yang tersedia, kemampuan monitoring, hingga pros & cons serta best practice dalam penggunaannya.

Apa Itu AWS API Gateway? #

AWS API Gateway adalah layanan fully managed dari AWS untuk membuat, mempublikasikan, mengamankan, memonitor, dan mengelola API dalam skala besar.

Secara sederhana, API Gateway bertindak sebagai:

  • Pintu masuk (entry point) untuk client (web, mobile, IoT)
  • Pengatur lalu lintas (traffic controller)
  • Lapisan keamanan (authentication & authorization)
  • Abstraksi backend (Lambda, container, EC2, atau external HTTP)

API Gateway mendukung API berbasis:

  • HTTP/REST
  • WebSocket (real-time, bidirectional)

Kenapa API Gateway Identik dengan Serverless? #

API Gateway sering disebut sebagai tulang punggung arsitektur serverless, karena:

  1. Tidak Perlu Mengelola Server Tidak ada provisioning, patching, scaling, atau HA yang harus diurus.

  2. Auto Scaling Secara Default API Gateway otomatis menskalakan request dari nol hingga jutaan request per detik.

  3. Pay-as-you-go Biaya dihitung berdasarkan jumlah request dan data transfer, bukan uptime server.

  4. Integrasi Native dengan AWS Lambda Sangat cocok untuk pola event-driven dan fungsi kecil yang stateless.

  5. Cocok untuk Microservices API Gateway bisa menjadi single entry point untuk banyak service backend.

Namun penting dicatat: API Gateway bisa digunakan tanpa Lambda, misalnya dengan backend EC2, ECS, EKS, atau bahkan API eksternal.


Jenis-Jenis AWS API Gateway #

AWS API Gateway memiliki tiga tipe utama dengan use case yang berbeda.

REST API (REST API Gateway) #

Ini adalah versi legacy namun paling feature-rich.

Karakteristik:

  • Mendukung RESTful API secara penuh
  • Fitur lengkap: API Keys, Usage Plan, Request/Response Mapping, Caching
  • Mendukung authorizer Lambda dan Cognito

Kapan digunakan:

  • Butuh kontrol request/response yang kompleks
  • Migrasi dari arsitektur lama
  • Butuh API key dan quota

Catatan:

  • Latency lebih tinggi dibanding HTTP API
  • Biaya lebih mahal

HTTP API #

HTTP API adalah versi lebih ringan, cepat, dan murah.

Karakteristik:

  • Lebih sederhana dibanding REST API
  • Latency lebih rendah
  • Konfigurasi lebih minimal
  • Integrasi langsung dengan Lambda dan ALB

Kapan digunakan:

  • API publik atau internal yang sederhana
  • Fokus pada performa dan biaya
  • Tidak butuh fitur kompleks (mapping rumit, caching built-in)

Rekomendasi AWS saat ini:

Gunakan HTTP API jika tidak membutuhkan fitur khusus REST API.

WebSocket API #

Digunakan untuk komunikasi real-time dan stateful.

Karakteristik:

  • Komunikasi dua arah (bidirectional)
  • Event-based: $connect, $disconnect, $default
  • Cocok untuk chat, live notification, multiplayer

Kapan digunakan:

  • Aplikasi real-time
  • Notifikasi instan
  • Dashboard live update

Komponen Utama dalam API Gateway #

Memahami komponen internal API Gateway penting untuk desain yang benar.

  • API: Container utama
  • Resource & Route: Path dan method (REST/HTTP)
  • Stage: Environment (dev, staging, prod)
  • Integration: Backend (Lambda, HTTP, AWS Service)
  • Authorizer: Mekanisme autentikasi
  • Deployment: Snapshot konfigurasi API

Konfigurasi yang Bisa Diset di AWS API Gateway #

Routing & Method #

  • HTTP method: GET, POST, PUT, DELETE, dll
  • Path parameter & query parameter

Integration Type #

API Gateway dapat terhubung ke:

  • AWS Lambda
  • HTTP endpoint (internal / external)
  • AWS services (SQS, DynamoDB, Step Functions)
  • Application Load Balancer (khusus HTTP API)

Authentication & Authorization #

Pilihan keamanan:

  • IAM Authorization Cocok untuk internal service-to-service

  • Lambda Authorizer Custom logic (JWT, API key custom, dsb)

  • Amazon Cognito Authorizer OAuth2 / OpenID Connect

Throttling & Rate Limiting #

  • Request per second (RPS)
  • Burst limit
  • Per-stage atau per-API key

Sangat penting untuk:

  • Mencegah abuse
  • Proteksi backend

API Key & Usage Plan (REST API) #

  • Membatasi quota per consumer
  • Monitoring pemakaian API

Caching (REST API) #

  • Cache response di edge
  • Mengurangi latency dan load backend

Custom Domain & TLS #

  • Domain sendiri (api.example.com)
  • Sertifikat dari AWS Certificate Manager

Apa Saja yang Bisa Dimonitor? #

API Gateway terintegrasi penuh dengan Amazon CloudWatch.

Metrics Utama #

  • Count: Jumlah request
  • Latency: Waktu total request
  • IntegrationLatency: Waktu backend
  • 4XXError / 5XXError
  • CacheHitCount / CacheMissCount

Logging #

  • Access Logs (structured log)
  • Execution Logs (debug request flow)

Best practice:

  • Gunakan format JSON
  • Sertakan requestId untuk tracing

Tracing #

  • Integrasi dengan AWS X-Ray
  • End-to-end tracing dari API Gateway → Lambda → downstream service

Pros & Cons AWS API Gateway #

Pros #

  • ✅ Fully managed (no server)
  • ✅ Auto scaling & high availability
  • ✅ Integrasi native dengan ekosistem AWS
  • ✅ Security built-in (IAM, Cognito, WAF)
  • ✅ Cocok untuk serverless & microservices

Cons #

  • ❌ Biaya bisa mahal untuk traffic sangat tinggi
  • ❌ Cold start Lambda berdampak ke latency
  • ❌ REST API terasa kompleks
  • ❌ Vendor lock-in ke AWS
  • ❌ Debugging tidak sesederhana server tradisional

API Gateway vs ALB #

AspekAPI GatewayApplication Load Balancer
ServerlessYaTidak sepenuhnya
PricingPer requestPer hour + LCU
AuthBuilt-inTerbatas
Use caseAPI publikTraffic internal / container

Rule of thumb:

  • API publik → API Gateway
  • Traffic service internal → ALB

Best Practice #

Pilih Jenis API yang Tepat #

  • Gunakan HTTP API sebagai default
  • Gunakan REST API hanya jika butuh fitur spesifik

Pisahkan Stage dengan Jelas #

  • dev / staging / prod
  • Jangan share stage untuk environment berbeda

Gunakan Throttling & WAF #

  • Selalu set rate limit
  • Integrasikan dengan AWS WAF untuk proteksi layer 7

Logging & Monitoring Sejak Awal #

  • Aktifkan access log
  • Setup alarm CloudWatch

Minimalkan Logic di API Gateway #

  • Jangan taruh business logic kompleks
  • Gunakan API Gateway sebagai routing & policy layer

Gunakan IaC (Infrastructure as Code) #

  • Terraform / AWS CDK / CloudFormation
  • Hindari konfigurasi manual di console

Penutup #

AWS API Gateway adalah komponen kunci dalam arsitektur cloud modern, terutama untuk pendekatan serverless dan event-driven. Dengan pemilihan tipe API yang tepat, konfigurasi yang bijak, serta monitoring yang matang, API Gateway dapat menjadi solusi yang andal, aman, dan scalable.

Namun, seperti semua teknologi, API Gateway bukan solusi universal. Pahami karakteristik traffic, biaya, dan kompleksitas sebelum menggunakannya di production.

Jika kamu membangun sistem cloud-native di AWS, memahami API Gateway adalah keharusan, bukan pilihan.

About | Author | Content Scope | Editorial Policy | Privacy Policy | Disclaimer | Contact