Sejarah #

Serverless computing sering dianggap sebagai inovasi modern yang lahir bersama cloud generasi terbaru. Padahal, konsep di balik serverless merupakan hasil evolusi panjang dari cara manusia membangun, menjalankan, dan mengelola sistem komputasi. Artikel ini secara khusus membahas sejarah serverless secara runut: mulai dari era server fisik, virtualisasi, cloud, hingga akhirnya melahirkan paradigma serverless yang kita kenal hari ini.

Era Awal: Server Fisik dan Pengelolaan Manual #

Pada fase awal perkembangan perangkat lunak, aplikasi dijalankan langsung di server fisik (bare metal). Setiap aplikasi atau sistem biasanya memiliki satu server khusus.

Ciri utama era ini:

  • Infrastruktur bersifat statis
  • Kapasitas harus diperkirakan sejak awal
  • Scaling dilakukan secara manual dengan menambah hardware
  • Deployment lambat dan berisiko tinggi

Pada tahap ini, developer merangkap sebagai sysadmin, bertanggung jawab atas:

  • Instalasi OS
  • Konfigurasi jaringan
  • Patch keamanan
  • Monitoring server

Model ini mahal, lambat, dan tidak fleksibel.


Virtualisasi: Awal Abstraksi Infrastruktur #

Sekitar awal 2000-an, teknologi virtualisasi mulai populer. Hypervisor seperti VMware memungkinkan satu server fisik menjalankan banyak mesin virtual (VM).

Dampak penting virtualisasi:

  • Resource utilization meningkat
  • Provisioning server lebih cepat
  • Isolasi antar aplikasi lebih baik

Namun, meskipun hardware sudah diabstraksi, VM tetap harus dikelola seperti server biasa:

  • OS harus di-maintain
  • Scaling masih relatif lambat
  • Biaya idle resource tetap tinggi

Virtualisasi adalah langkah penting, tetapi belum menyelesaikan masalah utama: beban operasional.


Lahirnya Cloud Computing (IaaS) #

Kemunculan cloud publik menandai titik balik besar dalam sejarah infrastruktur. Tahun 2006, Amazon meluncurkan AWS EC2, membuka era Infrastructure as a Service (IaaS).

Ciri utama IaaS:

  • Server bersifat on-demand
  • Pembayaran berdasarkan waktu pemakaian
  • Provisioning jauh lebih cepat

Namun secara konsep:

  • Developer masih mengelola server
  • Masih perlu capacity planning
  • Scaling membutuhkan konfigurasi tambahan

Cloud memindahkan server dari data center pribadi ke provider, tetapi belum menghilangkan konsep server itu sendiri.


Platform as a Service (PaaS): Abstraksi Lebih Tinggi #

Untuk mengurangi kompleksitas pengelolaan server, muncullah Platform as a Service (PaaS) seperti Google App Engine.

Pada model ini:

  • Developer hanya men-deploy aplikasi
  • Infrastruktur dikelola oleh platform
  • Scaling lebih otomatis

Namun PaaS memiliki keterbatasan:

  • Fleksibilitas rendah
  • Konfigurasi runtime dibatasi
  • Sulit untuk use case non-HTTP atau event-driven

PaaS memperkenalkan ide penting: developer seharusnya fokus pada kode, bukan server.


Microservices dan Dorongan Arsitektur Modular #

Seiring berkembangnya aplikasi berskala besar, arsitektur monolith mulai ditinggalkan dan digantikan oleh microservices.

Dampaknya terhadap sejarah serverless:

  • Aplikasi dipecah menjadi unit kecil
  • Setiap service memiliki lifecycle sendiri
  • Deployment lebih sering dan independen

Namun, microservices justru meningkatkan:

  • Kompleksitas operasional
  • Jumlah service yang harus di-manage

Industri mulai mencari model di mana unit kecil aplikasi dapat dijalankan tanpa overhead server per service.


Momen Kunci: Lahirnya Function as a Service (FaaS) #

Tahun 2014, Amazon memperkenalkan AWS Lambda. Inilah titik kelahiran resmi serverless computing modern.

Konsep kunci yang diperkenalkan:

  • Developer menulis fungsi, bukan aplikasi penuh
  • Fungsi dijalankan berdasarkan event
  • Tidak ada server yang perlu diprovision
  • Auto scaling bersifat default

Ini adalah perubahan paradigma besar:

Dari “deploy aplikasi ke server” menjadi “daftarkan fungsi ke event”.

Setelah Lambda, provider lain menyusul:

  • Google Cloud Functions
  • Azure Functions
  • IBM Cloud Functions

Evolusi Makna “Serverless” #

Awalnya, serverless identik dengan FaaS. Namun seiring waktu, maknanya meluas.

Serverless kini mencakup:

  • Managed database (DynamoDB, Firestore)
  • Authentication as a Service
  • Object storage event-driven
  • Managed message broker

Serverless bukan berarti “tanpa server”, melainkan:

Tanpa tanggung jawab mengelola server.


Serverless sebagai Konsekuensi Logis Evolusi Infrastruktur #

Jika ditarik garis sejarah, serverless bukanlah lompatan tiba-tiba, melainkan konsekuensi logis dari:

  • Kebutuhan deployment cepat
  • Sistem yang semakin event-driven
  • Tim engineering yang ingin fokus ke bisnis
  • Skala aplikasi yang tidak dapat diprediksi

Serverless adalah puncak dari tren:

  • Abstraksi
  • Otomatisasi
  • Pengurangan beban operasional

Penutup #

Sejarah serverless menunjukkan bahwa paradigma ini lahir bukan karena tren sesaat, tetapi karena kebutuhan nyata industri. Dari server fisik hingga function yang berjalan dalam hitungan milidetik, setiap fase membawa satu tujuan utama: mengurangi jarak antara ide dan eksekusi.

Memahami sejarah serverless membantu kita tidak hanya menggunakan teknologinya, tetapi juga memahami mengapa serverless ada, kapan ia tepat digunakan, dan bagaimana ia akan terus berevolusi di masa depan.

About | Author | Content Scope | Editorial Policy | Privacy Policy | Disclaimer | Contact