Kasak Kusuk #
Serverless sering digambarkan sebagai silver bullet: tanpa server, auto-scale, dan bayar sesuai pakai. Namun di balik narasi marketing itu, beredar banyak kasak kusuk—isu, mitos, dan ketakutan—yang membuat banyak engineer dan organisasi ragu mengadopsinya.
Artikel ini tidak membela serverless secara membabi buta, tapi membedah secara rasional berbagai kasak kusuk yang sering muncul, mengapa isu itu muncul, dan di mana letak kebenarannya.
“Biaya Serverless Akan Membengkak dan Tidak Terkontrol” #
Kasak Kusuk #
“Awalnya murah, lama-lama tagihan cloud jebol.”
Ini adalah isu paling populer sekaligus paling sering dipakai untuk menakut-nakuti tim.
Kenapa Isu Ini Muncul? #
- Model pay-per-invocation dan pay-per-duration terasa abstrak dibanding sewa VM bulanan
- Banyak tim tidak memasang budget alert & quota
- Arsitektur event-driven yang buruk → chatty functions
- Cold start → retry → invocation ganda
Realitanya #
Serverless mahal jika arsitekturnya salah
Serverless sangat murah untuk:
- Traffic fluktuatif
- Low-to-medium throughput
- Event sporadis
Biaya membengkak biasanya berasal dari:
- Over-invocation
- Logging berlebihan
- Network egress
Serverless bukan mahal — ketidaktahuan yang mahal.
“Kontrol Infrastruktur Hilang” #
Kasak Kusuk #
“Kita tidak pegang server, tidak bisa tuning OS, kernel, atau runtime.”
Kenapa Ini Ditakuti? #
Engineer terbiasa:
- SSH ke server
- Tuning sysctl
- Mengatur JVM flag
Serverless memindahkan kontrol ke provider
Realitanya #
Ya, kontrol level rendah memang hilang
Tapi sebagai gantinya:
- Tidak perlu patch OS
- Tidak perlu capacity planning
- Tidak perlu HA manual
Kontrol yang hilang diganti dengan kontrol yang lebih strategis:
- Kontrol arsitektur
- Kontrol flow data
- Kontrol concurrency & throttling
Serverless bukan less control, tapi different control.
“Hidden Cost di Serverless” #
Kasak Kusuk #
“Tagihan kecil-kecil tapi banyak, tahu-tahu besar.”
Sumber Hidden Cost yang Sering Terjadi #
- CloudWatch / Stackdriver logs
- API Gateway request
- NAT Gateway
- VPC networking
- Cross-region invocation
Realitanya #
- Hidden cost bukan unik milik serverless
- Serverless hanya membuatnya lebih granular dan transparan
Masalah utamanya:
- Engineer tidak membaca billing detail
- Arsitektur tidak cost-aware
Di serverless, arsitektur = tagihan.
“Vendor Lock-in Tidak Terhindarkan” #
Kasak Kusuk #
“Sekali masuk AWS Lambda, susah pindah ke GCP atau Azure.”
Fakta Teknis #
- Event model
- IAM
- Trigger (S3, Pub/Sub, EventBridge)
Semua itu vendor-specific.
Realitanya #
Vendor lock-in nyata, tapi:
- VM & managed service juga lock-in
- Kubernetes pun tetap lock-in ke cloud infra
Strategi mitigasi:
- Hexagonal architecture
- Thin handler
- Business logic bebas provider
Lock-in adalah trade-off sadar, bukan jebakan.
“Serverless Tidak Cocok untuk Sistem Besar” #
Kasak Kusuk #
“Serverless cuma cocok buat side project.”
Kenapa Ini Dipercaya? #
- Function kecil → dianggap tidak scalable
- Sulit tracing end-to-end
Realitanya #
Netflix, Airbnb, Coca-Cola, Grab memakai serverless
Masalahnya bukan skala, tapi:
- Observability
- Distributed tracing
- Ownership
Serverless memaksa disiplin arsitektur.
“Cold Start Membunuh Performance” #
Kasak Kusuk #
“Latency serverless tidak bisa diprediksi.”
Fakta #
Cold start itu nyata
Terutama di:
- Java
- VPC-attached function
Realitanya #
Tidak semua workload latency-sensitive
Banyak solusi:
- Provisioned concurrency
- Warming strategy
- Language choice
Cold start itu problem kontekstual, bukan universal.
“Debugging Serverless Itu Mimpi Buruk” #
Kasak Kusuk #
“Tidak bisa SSH, tidak bisa reproduce error.”
Realita Lapangan #
- Debugging memang berbeda
- Tidak bisa pakai mindset monolith
Solusi nyata:
- Structured logging
- Correlation ID
- Distributed tracing
- Replay event
Serverless memaksa engineer naik level observability.
“Tim Jadi Tidak Belajar Infrastruktur” #
Kasak Kusuk #
“Engineer jadi manja dan tidak paham sistem.”
Realitanya #
Yang berubah bukan kebutuhan skill, tapi jenis skill:
- Dari sysadmin → system designer
- Dari tuning server → modeling traffic
Serverless menggeser kompetensi, bukan menghilangkannya.
“Serverless = Tidak Bisa Compliance & Security” #
Kasak Kusuk #
“Tidak cocok untuk regulated industry.”
Realitanya #
Serverless digunakan di:
- Finance
- Healthcare
- Government
Dengan:
- IAM ketat
- Audit log
- Encryption default
Compliance lebih banyak soal proses, bukan server model.
Akar Masalah Sebenarnya: Serverless Mengubah Cara Berpikir #
Sebagian besar kasak kusuk serverless bukan masalah teknis, tapi:
- Perubahan mindset
- Hilangnya ilusi kontrol
- Ketidakbiasaan dengan arsitektur event-driven
Serverless menuntut:
- Arsitektur matang
- Observability sejak awal
- Cost-aware design
Penutup #
Serverless Bukan Solusi Mudah, Tapi Solusi Dewasa
Serverless bukan:
- Lebih murah untuk semua kasus
- Lebih simpel untuk semua tim
- Lebih cocok untuk semua sistem
Tapi serverless jujur:
- Arsitektur buruk langsung terasa
- Desain asal langsung mahal
Serverless tidak memaafkan desain yang malas.
Dan mungkin itu sebabnya banyak kasak kusuk lahir.